Demo Blog

Link Exchange

PASTI INI YANG ANDA CARI.....!

Contoh Proposal PTK

by ahmat yamani on Nov.22, 2009, under


PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN BERCERITA SISWA KELAS III
DI SD NEGERI TEGAL BUNGUR

(Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Siswa Kelas III SD Negeri Tegal Bungur Kecamatan Naringgul Cianjur)


A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran Bahasa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan peserta didik. Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan peserta didik dapat mencapai perkembangan intelektual, sosial, dan emosional sebagai penunjang keberhasilan dalam mempelajari mata pelajaran yang lainnya. Di samping itu, melalui pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Hal ini sesuai dengan tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia seperti yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi 4 (empat) aspek, yaitu: 1) mendengarkan; 2) berbicara; 3) membaca; dan 4) menulis. Karena itu, keterampilan berbicara sebagai salah satu komponen keterampilan berbahasa perlu diberikan kepada peserta didik, sebab keterampilan berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Pembicara yang baik mampu memudahkan penyimak untuk menangkap pembicaraan yang disampaikan.
Berbicara merupakan kegiatan berbahasa lisan, berkaitan dengan bunyi bahasa. Dalam berbicara seseorang menyampaikan informasi melalui suara atau bunyi bahasa. Berbicara merupakan keterampilan dalam menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan (1981:15) bahwa “berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan”.
Salah satu cakupan berbicara sebagai komunikasi lisan adalah keterampilan bercerita. Bercerita merupakan salah satu keterampilan berbicara yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada orang lain (Tarigan 1988:35). Dengan bercerita, seseorang dapat menyampaikan berbagai macam cerita, ungkapan berbagai perasaan sesuai dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat, dibaca dan ungkapan kemauan serta keinginan membagikan pengalaman yang diperoleh.
Berdasarkan Kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas III SD semester II kemampuan bercerita yang harus dikuasai siswa adalah “menceritakan peristiwa yang pernah dialami, dilihat atau didengar”. Untuk itu, guru SD kelas III perlu mengupayakan agar siswa mampu mencapai ketuntasan dalam mencapai kompetensi dasar tersebut baik secara klasikal maupun individual.
Namun di sekolah terdapat berbagai kendala berkaitan dengan pembelajaran bercerita. Pada saat pembelajaran bercerita di Kelas III SD Negeri Tegal Bungur Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur terdapat berbagai gejala permasalahan. Pertama, ketika guru menginstruksikan siswa untuk menceritakan peristiwa yang pernah dialami, dilihat atau didengar, tidak ada satupun siswa yang secara sukarela dan berani tampil di depan kelas untuk bercerita. Siswa malah saling tunjuk agar temannya yang tampil untuk bercerita. Kedua, setelah guru menunjuk siswa untuk bercerita secara bergiliran, terlihat masih banyak siswa yang tidak lancar dan mengalami kesulitan dalam bercerita. Siswa sering terlihat lupa tentang isi cerita yang harus disampaikan. Kata-kata atau ucapan yang disampaikan terputus-putus dan tidak jelas. Ketiga, siswa yang tidak tampil (sebagai penyimak) terlihat tidak memperhatikan dan kurang berminat menyimak ataupun mendengarkan cerita temannya. Keempat, pada akhir kegiatan pembelajaran setelah guru menanyakan kesulitan yang dirasakan siswa dalam kegiatan pembelajaran bercerita, jawaban siswa menunjukkan bahwa mereka masih banyak bingung dan tidak tahu apa yang harus diceritakan.
Apabila ditelaah, keadaan tersebut menunjukkan adannya suatu permasalahan yang bermuara kepada proses pembelajaran yang dikelola oleh guru, dimana proses pembelajaran yang terjadi tidak menumbuhkan minat dan perhatian siswa. Pada akhirnya, dengan adanya kendala dalam proses pembelajaran tersebut, pencapaian hasil pembelajaran yang dilaksanakan tidak maksimal. Untuk itu, perlu dilakukan upaya memperbaiki kegiatan pembelajaran bercerita sehingga baik proses maupun hasilnya dapat sesuai dengan harapan yang telah direncanakan.
Dalam tahun-tahun belakangan ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam pembelajaran ke arah paradigma konstruktivisme. Menurut pandangan ini bahwa pengetahuan tidak begitu saja bisa ditransfer oleh guru ke pikiran siswa, tetapi pengetahuan tersebut dikonstruksi di dalam pikiran siswa itu sendiri. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa (teacher centered), tetapi yang lebih diharapkan adalah bahwa pembelajaran berpusat pada siswa (student centered).
Pada pendekatan pembelajaran konstruktivisme, guru atau pengajar lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Jadi, siswa yang banyak secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar atau lingkungan belajar. Arsyad (Juliantara, http://www.kompasiana.com/ikpj, 12 Desember 2009) menyatakan bahwa:
“Lingkungan belajar adalah guru itu sendiri, siswa lain, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahan atau materi ajar (berupa buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video, atau audio, dan yang sejenis), dan berbagai sumber belajar serta fasilitas (OHP, perekam pita audio dan video, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat-pusat sumber belajar, termasuk alam sekitar).

Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan (isi atau materi ajar) dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan (siswa). Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbol-simbol komunikasi berupa simbol-simbol verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutnya ditafsirkan oleh penerima pesan.
Adakalanya proses penafsiran tersebut berhasil dan terkadang mengalami kegagalan. Faktor penyebab kegagalan penafsiran pesan tersebut terdiri dari bebagai macam, baik dari dalam diri siswa (internal) maupun dari luar diri siswa (eksternal). Faktor-faktor dari dalam diri siswa dapat berupa keadaan atau kondisi fisik maupun psikologis, sedangkan faktor-faktor dari luar diri siswa seperti guru, fasilitas, sarana dan lingkungan belajar. Hal ini, sesuai dengan pendapat Sadiman,dkk (Juliantara, http://www.kompasiana.com/ikpj,12 Desember 2009) bahwa:
Kegagalan proses penafsiran pesan bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya adanya hambatan psikologis (yang menyangkut minat, sikap, kepercayaan, inteligensi, dan pengetahuan), hambatan fisik berupa kelelahan, keterbatasan daya alat indera, dan kondisi kesehatan penerima pesan. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah hambatan kultural (berupa perbedaan adat istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan), dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan sekitar.

Untuk mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang terjadi selama proses penafsiran dan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, maka sedapat mungkin dalam penyampaian pesan (materi ajar) dibantu dengan menggunakan media pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan sumber belajar berupa media pembelajaran, proses komunikasi dalam kegiatan pembelajaran berlangsung lebih efektif dan efisien.
Sadiman (Haryalesmana, http:/guruit07.blogspot.com, 21 Januari 2009) menyatakan bahwa “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi”. Dalam pengertian ini, buku/modul, tape recorder, kaset, video recorder, camera video, televisi, radio, film, slide, foto, gambar, dan komputer adalah merupakan media pembelajaran.
Gambar merupakan salah satu media pembelajaran, dengan demikian gambar dapat digunakan oleh guru untuk menumbuhkan perhatian siswa terhadap materi pembelajaran yang disampaikan. Penggunaan media gambar dapat menumbuhkan rasa keingintahuan siswa mengenai peristiwa yang terjadi dibalik sebuah gambar yang dilihatnya, sehingga akhirnya siswa tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
Penggunaan media gambar memiliki berbagai kegunaan dalam proses pembelajaran. Hamalik (1994: 63), menyatakan bahwa media gambar dalam pembelajaran memiliki manfaat, sebagai berikut: “(1) penggunaan media gambar dalam pengajaran dapat merangsang minat atau perhatian siswa; . (2) gambar yang dipilih dapat diadaptasi secara tepat membantu siswa memahami dan mengingat informasi bahan-bahan verbal yang menyertainya”.
Uraian di atas mengindikasikan bahwa adanya permasalahan yang dialami siswa dalam kegiatan pembelajaran bercerita terjadi karena dalam proses pembelajaran tidak menggunakan media pembelajaran yang tepat. Selain itu, dalam bercerita siswa tidak menggunakan alat bantu, sehingga mengalami kesulitan-kesulitan dalam bercerita.
Hal ini menarik perhatian peneliti, sehingga penelitian tindakan kelas ini diberi judul “Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Keterampilan Bercerita Siswa Kelas III di SD Negeri Tegal Bungur”.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka secara umum permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana peningkatan keterampilan bercerita pada siswa kelas III SDN Tegal Bungur Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur melalui penggunaan media gambar”? Secara khusus rumusan permasalahan, sebagai berikut:
1. Bagaimana peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran bercerita melalui penggunaan media gambar?
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bercerita melalui penggunaan media gambar?

C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan bercerita siswa kelas III SDN Tegal Bungur Naringgul Cianjur melalui penggunaan media gambar. Secara khusus tujuan penelitian untuk mengetahui:
1. Peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran bercerita melalui penggunaan media gambar.
2. Peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bercerita melalui penggunaan media gambar.



D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang mebaca skripsi ini. Secara khusus penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut:
1. Bagi Guru
Dapat dijadikan sebagai salah satu masukan dalam melaksanakan pembelejaran berbicara khususnya untuk meningkatkan keterampilan bercerita melalui penggunaan media gambar.
2. Bagi Siswa
Dapat menumbuhkan minat dan perhatian serta meningkatkan hasil pembelajaran dalam keterampilan bercerita melalui media gambar.
3. Bagi Sekolah
Dapat mendorong pihak sekolah untuk memotivasi semangat para guru untuk selalu menggunakan media pembelajaran dalam pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah.

E. Kerangka Teoritik dan Hipotesis Tindakan
1. Kerangka Teoritik
Berikut ini disampaikan beberapa definisi operasional yang mendukung penelitian ini, yaitu ;
a. Bercerita merupakan salah satu keterampilan berbicara yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada orang lain. (Tarigan, 1981:35).
b. Bercerita merupakan salah satu cara untuk mengungkap kemampuan berbicara siswa yang bersifat pragmatis. Agar dapat bercerita, paling tidak ada dua hal yang dituntut untuk dikuasai siswa, yaitu unsur linguistik (bagaimana cara bercerita, bagaimana memilih bahasa) dan unsur "apa" yang diceritakan. Ketepatan, kelancaran, dan kejelasan cerita akan menunjukkan kemampuan berbicara siswa. (Nurgiyantoro, 2001:289).
c. Reiser dan Gagne menyatakan bahwa media pembelajaran adalah segala alat fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Dalam pengertian ini, buku/modul, tape recorder, kaset, video recorder, camera video, televisi, radio, film, slide, foto, gambar, dan komputer. (Haryalesmana, http:/guruit07.blogspot.com, 21 Januari 2009)
d. Media gambar adalah salah satu jenis media visual yang berupa gambar, yang merupakan sarana penyampai pesan. Hamalik (1994: 63).
e. Keterampilan bercerita yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa untuk menceritakan peristiwa yang pernah dialami, dilihat atau didengar di depan kelas dengan menggunakan tata bahasa yang tepat, lancar dan sistematik, sehingga isi cerita yang disampaikan dapat dipahami penyimak.
f. Media gambar dalam penelitian ini adalah suatu media visual mencakup semua jenis gambar atau foto yang digunakan sebagai alat bantu bagi siswa dalam bercerita di depan kelas.
2. Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
”Jika pembelajaran menggunakan media gambar, maka aktivitas dan hasil pembelajaran bercerita akan meningkat”.

F. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Tegal Bungur Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SD sebanyak 14 orang yang tediri dari 7 orang siswa laki-laki dan 7 orang siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan pada saat semester II tahun pelajaran 2009/2010.

G. Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas (Arikunto, 2006:19).
Penelitian tindakan kelas dilakukan menggunakan model spiral atau siklus yang dikembangkan oleh John Elliot, dimana dalam setiap siklus terdiri dari 4 (empat) tahapan tindakan yaitu tahap perencanaan (planning), tahap pelaksanaan (acting), tahap pengamatan (observing) dan tahap repleksi (reflecting). Skema siklus model John Elliot seperti pada gambar di bawah ini :
















Gambar 1.1
Siklus Tahapan Penelitian Tindakan Kelas

Untuk siklus II dalam penelitian tindakan ini direncanakan berdasarkan hasil refleksi dari siklus I, sehingga masing-masing siklus saling keterkaitan. Siklus II merupakan modifikasi dari siklus I. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sehingga indikator keberhasilan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dengan kata lain kekurangan atau kelemahan yang ditemui pada siklus I dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk perbaikan pada siklus selanjutnya.
Uraian tahapan tindakan setiap siklus, sebagai berikut:
1. Tahapan Perencanaan (planning) adalah merencanakan program tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan bercerita siswa.
2. Tahapan Tindakan (acting) adalah pembelajaran yang dilakukan peneliti sebagai upaya peningkatan keterampilan bercerita siswa.
3. Tahapan Pengamatan (observing) adalah pengamatan terhadap siswa selama pembelajaran berlangsung.
4. Tahapan Refleksi (reflection) adalah kegiatan mengkaji dan mempertimbangkan hasil yang diperoleh dari pengamatan sehingga dapat dilakukan revisi terhadap proses pembelajaran selanjutnya.
Indikator untuk mengukur keberhasilan setiap siklus, sebagai berikut :
1. Sebanyak 80% siswa berani bertanya atau menjawab pertanyaan dalam kegiatan pembelajaran.
2. Seluruh siswa dapat menyelesaikan tugas secara tepat waktu.
3. Telah tercapai ketuntasan belajar baik secara klasikal maupun individual yang akan dilihat dari ulangan harian.

H. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian disusun bertujuan untuk pengumpulan data selama pelaksanaan tindakan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Lembar Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti. Observasi dalam penelitian ini ditujukan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Aspek-aspek yang diamati melalui observasi berupa:
a. Keaktifan siswa bertanya dan menjawab pertanyaan
b. Ketepatan waktu siswa dalam pengerjaan tugas
2. Pedoman Wawancara
Wawancara merupakan bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden atau sumber data dalam bentuk tanya jawab dalam hubungan tatap muka, sehingga gerak dan mimik responden merupakan pola media yang melengkapi kata-kata secara verbal. Nasution (1996: 73) menyatakan tujuan wawancara adalah untuk mengetahui apa yang terkandung dalam pikiran dan hati orang lain, bagaimana pandangannya tentang dunia, yaitu hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui observasi.
Dalam penelitian ini aspek-aspek yang ditanyakan kepada siswa, yaitu:
a. Tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran bercerita dengan menggunakan media gambar
b. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran bercerita dengan menggunakan media gambar.
c. Saran-saran untuk perbaikan kegiatan pembelajaran bercerita dengan menggunakan media gambar.
3. Lembar Penilaian Unjuk Kerja
Lembar penilaian unjuk kerja digunakan untuk mengukur pencapaian siswa terhadap kompetensi pembelajaran, sehinga diperoleh gambaran ketuntasan belajar baik secara individual maupun klasikal. Hasil dari penilaian unjuk kerja dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan tindakan selanjutnya. Aspek-aspek yang dinilai adalah kemampuan bercerita meliputi:
a. aspek kognitif, yaitu: kesesuaian isi cerita dengan gambar yang disajikan, penggunaan kata (diksi) dan penggunaan kalimat.
b. Aspek psikomotor, yaitu: kejelasan ucapan dan kelancaran siswa dalam bercerita.
c. Aspek afektif, yaitu: penghayatan/ekspresi siswa dalam bercerita.
4. Dokumentasi Foto
Dokumentasi foto merupakan data yang cukup penting sebagai bukti terjadinya suatu peristiwa. Dalam penelitian ini, peneliti memandang perlu juga menggunakan dokumentasi foto sebagai salah satu data instrumen nontes. Penggunaan instrumen berupa pengambilan foto ini dimaksudkan untuk memperoleh rekaman aktivitas atau perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran dalam bentuk dokumentasi gambar. Dokumentasi foto memperkuat bukti analisis penelitian pada setiap siklus. Selain itu, data yang diambil melalui dokumentasi foto ini juga memperjelas data yang lain yang hanya terdeskripsikan melalui tulisan atau angka. Sebagai data penelitian, hasil dokumentasi foto ini selanjutnya dideskripsikan sesuai keadaan yang ada dan dipadukan dengan data-data yang lain.
1 komentar more...

1 komentar

Poskan Komentar

DETEKSI GEMPA INDONESIA

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Blog Sahabat

  • NAPAK TILAS SMPN 1 NARINGGUL - *SMP NEGERI 1 NARINGGUL * *"RIWAJATMOE DOELOE" **DAN** "SEKARANG"* SMP NEGERI 1 NARINGGUL DIRINTIS TAHUN 1984, PADA AWALNYA MERUPAKAN KELAS JAUH/FILIAL DA...
    4 tahun yang lalu
  • Prakata - Selamat menikmati semua yang ada di blog ini semoga bermanfaat bagi anda semua khususnya reka-rekan yang ada di wilayah Kec.naringgul! Kembangkan terus kre...
    4 tahun yang lalu

Followers